Monday, June 4, 2018

The Power Of Love (Kisah)



2016
Malam itu Fikri sedang berkumpul bersama teman-temannya di pusat Alun-alun kota. Tawa canda, sindir menyindir sana sini sudah menjadi hal yang sewajarnya terjadi diantara Fikri dan teman-temannya. Sampai suatu ketika pandangan Fikri teralihkan oleh seorang wanita didepannya yang sedang memberi satu bungkus nasi kepada ibu-ibu tua renta yang berjualan minuman. Fikri terpaku oleh senyum wanita itu. Bukan hanya itu saja yang membuat Fikri kagum terhadap wanita itu, tapi Fikri kagum juga akan sifat berbagi di tengah angin malam.

“Woi ngeliatin apa sih lu?!” Ucap Teman Fikri
“Itu ada Bidadari lagi bagi-bagi nasi” Jawab Fikri
“Oh itu mah dari komunitas Berbagi Nasi bro, Setiap hari Jumat mereka selalu begitu” Lanjut temannya.

Pulang dari alun-alun, Fikri langsung mencari info tentang Komunitas Berbagi Nasi di kotanya itu. Browsing-browsing, dapatlah Instagram dari komunitas itu. Fikri mencari-cari nomor telepon yang bisa di hubungi, jelas tujuan Fikri adalah ingin bergabung dan tentu saja ingin lebih kenal dekat dengan wanita tanpa nama yang membuat dia terpaku sebelumnya. Setelah ber-Whatsapp ria dengan yang sepertinya Ketua dari komunitas tersebut, Akhirnya Fikri memutuskan untuk bergabung dan datang pada jumat minggu depannya.

Minggu depannya di alun-alun kota, Fikri sudah membawa 10 bungkus nasi sesuai perintah sang ketua. Dengan niat ikhlas sekaligus ingin mengetahui siapa wanita itu, Fikri berdiri di tengah keramaian sambil mencari Ketua Komunitas. Fikri sebelumnya sudah bilang kalau dia menggunakan jaket berwarna hitam dan membawa tas selempeng ke kiri pada Ketua, tiba-tiba seseorang memegang pundak Fikri dan bilang “Fikri ya?”. Spontan Fikri mengangguk dan si orang itu menyuruhnya untuk ikut dengannya. Ditempat itulah Fikri bertemu kembali dengan wanita itu. Wanita itu mungkin tak mengingat Fikri, jelas kontak mata yang terjadi hanya beberapa saat minggu lalu. Tapi Fikri tetap tidak bisa melupakan wanita itu. Wanita dengan baju gamis panjang berwarna cream, lengkap dengan kerudungnya yang menutupi setengah badannya. Tak lupa kacatamanya yang membuat senyumnya bertambah manis.

Fikri berkenalan dengan yang lainnya, kemudian si Ketua langsung memberi kata-kata sebelum berbagi nasi bungkus ini. Kata-kata yang membuat Fikri juga merasa tidak salah untuk bergabung dengan Komunitas ini. Yang paling tidak bisa Fikri lupakan dari kata-kata sang ketua adalah tentang Al-Quran Surat Al-Hadiid Ayat 7 yang memiliki arti

Quote:


Entah kebetulan atau memang takdir yang maha kuasa, Fikri ditugaskan untuk berbagi nasi dengan kelompok yang ada wanita itu di dalamnya. Kelompok-kelompok ini berjumlah 4 orang disetiap kelompoknya dan di sebar di sekitar alun-alun kota. Karena Fikri anak baru dan gatau prosedur jalannya, wanita itu disuruh sang ketua untuk membantu Fikri. Disitulah awal perkenalan Fikri dan wanita yang mempunyai nama Ayra. Begitu pula awal cerita ini dimulai.

“Fikri ya? Saya Ayra, jadi langsung aja ya saya jelasin prosedurnya” Ucap Ayra
“Iya boleh mbak” Jawab Fikri
“Jangan Mbak dong, panggil nama aja biar akrab” Protes Ayra
“Oke siap Ra” Lanjut Fikri singkat

Sambil berbagi nasi, Fikri tak lepas dari curi-curi pandang ke arah Ayra. Entah Ayra menyadari atau tidak, yang jelas difikiran Fikri adalah bagaimana cara memberhentikan waktu. Fikri bahkan hampir tidak sadar kalau ada 2 orang lainnya selain Ayra. Disaat sedang duduk di taman alun-alun untuk beristirahat, Ayra membuka kacamatanya untuk mengelap keringat disela-sela hidungnya. Pemandangan sederhana seperti itu dapat membuat Fikri tersenyum untuk 1 minggu kedepan. Ayra menawarkan air mineral gelas yang dia bawa dan Fikri mengambilnya.

“Terima kasih, nomor teleponnya juga sekalian dong”.
Dalam hatinya Fikri berteriak, “WHAT THE F*CK ARE U DOING?!”.
Diluar dugaan Ayra bilang “Ambil aja di Grup WA, kan kamu udah join”
Sambil menepok jidatnya sendiri, Fikri menganggukan kepala dan bilang “Iya juga ya”.

Selesai berbagi nasi, semua pulang ke rumah masing-masing. Fikri harus mengurungkan niatnya yang ingin mengantar Ayra pulang karena Ayra ternyata membawa motor sendiri. Ingin membuntuti Ayra hanya sekedar ingin mengetahui rumahnyapun diurungkan karena takut dikira bukan orang baik-baik. Senjata terakhir yang tersisa adalah nomor WA Ayra yang dia dapat di grup komunitas. Dengan perasaan dag dig dug der Fikri mencoba menchatting Ayra.

“Assalamualaikum Ra, ini Fikri di save ya nomor saya” Fikri mencoba memulai
“Sudah tau, sudah saya save. Saya selalu save semua anggota karena saya bendahara” Jawab Ayra yang sangat formal.
“Oh begitu, oke terima kasih ya” Lanjut Fikri. Chat berakhir dengan ceklis 2 biru yang tak kunjung ada jawaban lain.

Satu hal yang Fikri tau tentang Ayra saat itu adalah, Ayra orangnya sangat formal kesiapapun. Beda dengan Fikri yang biasanya mudah bercanda dengan orang lain. Ini menjadi tantangan tersendiri untuknya. Challange Accepted.

Hari-hari setelahnya Fikri hanya mencoba chat dengan Ayra saat Ayra membuat status di WA. Kebanyakan hanya respon-respon positif terhadap kata-kata WA Story Ayra, balasan Ayra juga terbilang cukup singkat padat jelas, yap hanya emoticon jempol 1 atau terkadang 2 sampai 3, terkadang juga hanya di baca. Perjuangan ini lebih sulit dari yang Fikri kira.

Sampai suatu ketika, saat Fikri membuat WA Story yang memang tujuannya untuk Ayra, eh Ayranya balas. Awkward moment terbesar Fikri terjadi saat itu. Mau bales takut salah ngomong, mau ga bales takut di kira sombong. Fikri balas sebisa mungkin dan balasannya itu hanya dibaca oleh Ayra. Malam itu, Fikri menggerutu dalam hatinya.

Pada hari jumatnya saat bertemu dengan Ayra, Fikri mencoba untuk stay cool dan ya bisa dibilang, Fikri sudah agak menyerah karena dinding kokoh hati Ayra yang sangat sulit untuk di tembus. Malam itu ditengah rintik gerimis yang turun di kota, Fikri tetap ikhlas untuk berbagi nasi, karena tujuan dia ikut komunitas ini adalah untuk berbagi, bukan hanya untuk Ayra. Di tengah istirahat, Fikri ditegur oleh teman Ayra, Naya.
Spoiler for Percakapan:


Fikri bingung setengah mati untuk mengambil langkah. Perasaan Fikri terhadap Ayra seperti cangkir teh yang terus-menerus dituangi air teh sampai tumpah. Semakin hari semakin menjadi. Ditengah kegalauan hatinya itu, Fikri melihat ada Pamplet Kajian di Kampusnya. Tema pada Kajian itu adalah tentang Menikah. Tanpa pikir panjang, Fikri mencacat tanggalnya dan memutuskan untuk datang nantinya.

Hari dimana Kajian itu dilaksanakan, Fikri sengaja datang lebih awal agar duduk paling depan. Fikri mencatat setiap perkataan-perkataan yang menurut dia penting dari Ustadz yang berceramah. Seperti menikah itu pahalanya setengah dari agama, menikah itu agar terbebas dari zinah, orang yang menikah akan dicukupkan rezekinya oleh sang pencipta dan lain sebagainya. Fikri sangat berantusias mengikuti ceramah ini.
Disaat sesi pertanyaan, Fikri bertanya pada Ustadz :
“Pak, Saya berumur 21 tahun, saya masih kuliah, saya ingin menikah tapi saya tidak punya apa-apa. Dalam kondisi demikian saya harus berbuat apa?”

Pak Ustadz menjawab :
“Menikahlah kau anak muda. Karena sesungguhnya syarat menikah menurut Nabi Muhammad SAW hanya ada 4. Yang pertama karena Agamanya, Kedua karena kecantikan atau ketampanannya, Ketiga karena Nasab atau keturunannya dan yang terakhir karena hartanya.”

Mendengar jawaban Ustadz itu, pulang dari acara tersebut Fikri langsung membicarakan hal besarnya ini kepada orang tuanya. Orang tua Fikri jelas menentang karena sudah jelas mau diberi makan apa istrinya kelak. Ya pemikiran orang tua kebanyakan memang seperti ini. Fikri menjelaskan sedemikian rupa tentang ilmu yang dia dapatkan barusan di Kajian, tetap saja orang tuanya tidak merestui dan tidak mengizinkan Fikri untuk melamar anak orang sembarangan. Tapi Fikri tetap bersikeras untuk melamar Ayra, dia bahkan bilang akan berangkat besok pagi ke rumah Ayra. Orang tua Fikri menggeleng-gelengkan kepalanya. Sebelum dia tidur, Fikri mem-WA Ayra dan bilang akan ke rumahnya besok pagi untuk melamarnya. Ayra hanya merespon dengan balasan “Iya”. Melihat balasan itu, Fikri sangat bersemangat untuk tidur.

Pagi harinya, dengan sangat semangat Fikri mengendarai motor bebeknya ke rumah Ayra. Bermodal Share Location dari Ayra, Kemeja rapih andalannya, Celana Jeans Hitam dan Sepatu Sneakersnya pun tak ketinggalan Fikri pakai dihari yang specialnya ini. Tanpa orang tuanya, Fikri langsung mencoba melamar Ayra.

Sesampainya di rumah Ayra, Fikri dipersilahkan masuk oleh Asisten Rumah Tangganya. Fikri disuruh duduk di ruang tamu dan menunggu Bapak dari Ayra. Ketika Bapak Ayra datang, Fikri spontan berdiri dan bersalaman dengan bapak Ayra. Kemudian bapak Ayra menyuruh Fikri kembali duduk.
“Jadi kamu siapa dan ada perlu apa kemari nak?” Tanya Bapak Ayra To The Point
“Begini pak, mohon maaf jika saya tidak sopan, tapi tujuan saya sekarang ke rumah bapak adalah untuk melamar anak bapak, Ayra.” Jawab Fikri tegas.

Setelah jabawan itu Fikri tegaskan, ayah Ayra langsung banyak sekali bertanya ke Fikri. Mulai dari kesibukannya apa sekarang, anak keberapa dari berapa bersaudara, nama orang tuanya siapa, orang tua kerja dimana dan pertanyaan pamungkasnya adalah “Kenapa mau ngelamar anak saya?”

Jabawan Fikri adalah :
“Karena saya yakin, meskipun sekarang saya tidak punya apa-apa, tapi Allah Swt. Selalu bersama saya. Allah Swt. Akan selalu melindungi saya jika saya selalu berjalan ke jalan yang benar dan menikah merupakan jalan yang sangat diridhoi Allah Swt. Pak. Saya yakin juga anak bapak, Ayra dapat menjadi penyempurna yang sangat sempurna dalam hidup saya”

Setelah mendengar jawaban itu, bapak Ayra langsung memanggil Ayra untuk ke ruang tamu. Ayra duduk di sampingnya. Dengan helaan nafas yang lumayan panjang,
“Nak Fikri, terima kasih sudah melamar anak saya Ayra, tapi maaf saya pribadi belum bisa menerima kamu untuk menjadi mantu saya. Alasannya adalah kamu masih belum siap untuk membangun rumah tangga.” Jelas Bapak Ayra
“Tapi pak saya serius dan saya siap” Protes Fikri
“Oke kalau gitu kamu saya uji. Bawa uang 200 juta kemari dan lamar kembali anak saya. Apa kamu sanggup? Itu juga kalau belum ada yang lamar anak saya lagi ya.” Tantang Bapak Ayra
"Oke Pak saya akan kembali Jawab Fikri Singkat

Setelah itu Fikri langsung pamitan untuk pulang, Ayra menemani Fikri sampai gerbang depan rumahnya. Sambil menutup pagar rumah Ayra melihat kearah Fikri yang sedang berusaha menyalakan motor bebeknya. Setelah motornya menyala, Fikri menoleh ke arah Ayra dan bilang “Doain ya”. Ayra mengangguk kemudian menutup pagar rumahnya. Fikri langsung pulang ke rumah dan masuk ke kamarnya. Masih dengan kemeja andalan, celana jeans hitam dan sepatu sneakers yang masih melekat dibadannya, Fikri menerawang ke langit-langit kamarnya sambil mengangkat tangannya dan terlintas dipikirannya “200 juta ya, gimana ya, apa gue bisa?”. Tanpa disadari Fikri tertidur.

Siangnya Fikri terbangun dan langsung mengganti pakaiannya. Ketika keruang tamu, dia bertemu orang tuanya. Orang tuanya menanyakan apakah Fikri benar-benar melamar orang lain dan menanyakan hasilnya. Fikri menjelaskannya sedikit demi sedikit.
Ayah Fikri menjelaskan kembali kepada Fikri
"Orang tua kaya kita tuh hanya ingin yang terbaik buat anak-anaknya nak. Kalau kamu emang udah siap untuk menikah, kita juga ga akan melarang kamu. Kamu bebas mau nikah sama siapapun pilihan kamu. Tapi untuk saat ini kamu memang belum siap. Kamu juga harus lebih banyak mendekatkan diri juga ke Allah Swt. Nak. Allah tuh maha membolak balikan hati. Jadi jangan cuman ngedeketin dia dan orang tua dia, tapi deketin dulu yang nyiptain hati mereka. Insyaallah nak pasti dikasih jalan terbaik sama Allah"

Mendengar penjelasan itu Fikri tak bisa menahan air matanya. Fikri sadar selama ini dia sudah sangat jauh sama sang pencipta, dia sudah banyak sekali melakukan hal-hal yang dilarang dan meninggalkan kewajiban dia untuk beribadah. Fikri sadar, dirinya harus berubah menjadi lebih baik untuk bisa mendapatkan Ayra. Karena sebagaimana Fikri pernah dengar dalam suatu ceramah, Jodohmu adalah cerminan dirimu. Maka kalau Fikri baik, jodohnya juga akan orang yang baik. Fikri yakin Ayra adalah orang yang baik. Keluarga Ayra juga dirasa keluarga baik-baik. Jadi sekarang misi utama Fikri adalah berubah menjadi orang yang lebih baik.

2017
Tahun ini merupakan tahun terakhir Fikri berkuliah, saat ini dia memasuki semester akhir. Kesibukan Fikri bukan hanya kuliah semata. Dia lebih disibukan dengan bisnis-bisnis yang dia lakukan sedari tahun lalu. Fikri membuka bisnis di bidang kuliner maupun pakaian. Bermula dari berjualan makanan Seblak dan Risoles Isi di rumahnya, sekarang Fikri sudah berjualan secara online. Seiring berjalannya waktu, bisnis Fikri berkembang pesat dan Fikri berfikir untuk memulai bisnis baru menjelas Ramadhan tahun lalu. Ide bisnisnya adalah berjualan Pakaian. Bermodal keahlian dalam mendesain, Fikri memulai untuk berjualan Pakaian dengan Brand Fikra, Fikra merupakan singkatan dari nama Fikri dan Ayra. Dia menamai brand pakaiannya itu agar semangat. Brand Fikra tidak hanya menjual baju dengan desain-desain unik saja, tapi Fikra juga menjual pakaian-pakaian muslim. Fikri berfikir ini lagi momennya dan biar berkah. Orang tua Fikri sangat senang melihat anaknya semangat dalam berbisnis sambil tidak lupa berkuliah. Orang tua Fikri juga tidak sungkan-sungkan membantu bisnis anaknya ini. Sampai suatu hari Ibu Fikri bilang “Kamu udah siap menikah nak”. Fikri hanya tersenyum mendengar kalimat itu dari Ibunya.

Kesibukan Fikri tidak hanya sebatas Kuliah dan Bisnis saja. Fikri juga lebih rajin mengikuti kajian-kajian yang berada di kotanya. Darisanalah dia belajar banyak tentang islam. Banyak hal-hal kecil maupun besar yang dia ambil dari setiap kajian yang menuntunnya ke arah yang lebih baik. Fikri mulai jarang mengikuti kegiatan Komunitas Berbagi Nasi karena lebih memilih ikut Kajian. Sebenarnya ini juga langkah dia untuk lebih menjaga jarak dari Ayra. Dia hanya ingin saat Ayra melihatnya lagi nanti, Fikri terlihat lebih baik. Fikri juga tidak tau kabar Ayra, Fikri tidak tahu apakah sudah ada orang lain yang melamar dia terlebih dahalu. Fikri hanya fokus mengejar cinta Allah Swt dengan lebih sering sholat 5 waktu di masjid, ikut kajian keislaman, dan melakukan hal-hal baik lainnya.

Dipengujung tahun 2017, Fikri lulus dari kuliah dan dihari dia wisuda, dia berfikir akan melamar Ayra besok. Fikri menceritakan niatnya tersebut pada orang tuanya. Orang tuanya menyambut baik niat anaknya tersebut sambil berpelukan.Malam harinya, sesuai dengan janji Fikri terhadap Bapak Ayra, dia pergi ke bank tempat dia menyimpan uang hasil dari bisnisnya selama ini. Fikri jarang melihat saldo rekeningnya, karena untuk urusan keuangan dia percayakan kepada ibunya. Kali ini dia berpergi ke bank dan langsung menuju ATM. Dengan harap-harap cemas dia berharap uang yang ada di saldonya berjumlah 200 juta atau lebih. Dari ternyata uang yang ada di saldonya hanya ada 160 juta. Fikri pulang dengan muka lemas, dia hanya mengambil 100rb untuk membeli makanan dijalan pulangnya. Sesampainya dirumah dia bercerita kepada ibunya tentang tantangan Bapak Ayra ini. Ibunya langsung menuju kamar dan membawa sebuah koper.

“Nih hasil bisnis kamu yang offline selalu ibu taro sini, yang di bank mah hasil dari online doang fik” Jelas ibunya.
“Coba kita hitung yuk bu.” Lanjut Fikri

Setengah jam berlalu, uang yang terhitung mencapai 35 juta. Tanpa disadari dari ruang keluarga, Ayah Fikri mendengar pembicaraan dan melempar uang 5 juta yang dikaretkan sambil bilang “Nih kurangnya”. Fikri langsung memeluk kedua orang tuanya dan kemudian bergegas merapihkan semua uangnya kembali ke dalam koper dan berbegas tidur.

Besok paginya, sebelum ke rumah Ayra, Fikri pergi ke bank dahulu untuk mengambil uang di tabungannya. Tak memakan waktu lama, Fikri langsung merapihkan sisa uang yang dia punya ke dalam koper yang dibawa ibunya dan menuju rumah Ayra dengan orang tuanya. Sesampainya di rumah Ayra, Fikri dan Keluarga langsung dipersilahkan duduk di ruang tamu oleh orang tua Ayra. Fikri menjelaskan maksud kedatangannya untuk melamar Ayra kembali sambil menyodorkan koper berisi uang 200 juta. Bapak Ayra tertawa dan menyuruh Fikri mengambil kembali koper itu.
“Jadi ini nak Fikri, tujuan saya memberi syarat membawa uang 200 juta itu sebenarnya hanya ujian semata. Itu buat menguji kamu serius gak sama anak saya. Dari yang saya liat tentang perkembangan kamu, saya liat kamu sekarang sudah sangat siap untuk menikah. Tapi sekarang balik lagi ke anak saya. Anak sayanya mau gak sama kamu. Ayra gimana?” Jelas Bapak Ayra.

Ayra mengangguk tanda setuju. Seisi ruangan sontak mengucapkan "Alhamdulillah"

2018
Awal tahun menjadi awal yang baru juga bagi kehidupan Fikri dan Ayra. Setelah melewati segala hal, akhirnya Fikri berhasil menjadikan Ayra sebagai Istrinya. Perjuangan Fikri tak lepas dari doa orang tuanya, doa dirinya dan bahkan mungkin Fikri tidak tahu jika ternyata Ayra diam-diam mendoakannya. Semua ini terjadi karena niat yang baik dari semuanya. Niat karena Allah Ta’alla. Fikri dan Ayra berharap pernikahan mereka bisa menuntun mereka ke Surga-Nya. Amin.


FirZha

TAMAT


Sumber : https://www.kaskus.co.id/thread/5b07ed1ad44f9f753d8b456b/yuk-ngabuburit-sambil-baca-kumpulan-cerpen-di-sini/

0 comments:

Post a Comment