
2016
Malam itu Fikri sedang berkumpul bersama teman-temannya di pusat
Alun-alun kota. Tawa canda, sindir menyindir sana sini sudah menjadi hal
yang sewajarnya terjadi diantara Fikri dan teman-temannya. Sampai suatu
ketika pandangan Fikri teralihkan oleh seorang wanita didepannya yang
sedang memberi satu bungkus nasi kepada ibu-ibu tua renta yang berjualan
minuman. Fikri terpaku oleh senyum wanita itu. Bukan hanya itu saja
yang membuat Fikri kagum terhadap wanita itu, tapi Fikri kagum juga akan
sifat berbagi di tengah angin malam.
“Woi ngeliatin apa sih lu?!” Ucap Teman Fikri
“Itu ada Bidadari lagi bagi-bagi nasi” Jawab Fikri
“Oh itu mah dari komunitas Berbagi Nasi bro, Setiap hari Jumat mereka selalu begitu” Lanjut temannya.
Pulang dari alun-alun, Fikri langsung mencari info tentang Komunitas
Berbagi Nasi di kotanya itu. Browsing-browsing, dapatlah Instagram dari
komunitas itu. Fikri mencari-cari nomor telepon yang bisa di hubungi,
jelas tujuan Fikri adalah ingin bergabung dan tentu saja ingin lebih
kenal dekat dengan wanita tanpa nama yang membuat dia terpaku
sebelumnya. Setelah ber-Whatsapp ria dengan yang sepertinya Ketua dari
komunitas tersebut, Akhirnya Fikri memutuskan untuk bergabung dan datang
pada jumat minggu depannya.
Minggu depannya di alun-alun kota, Fikri sudah membawa 10 bungkus nasi
sesuai perintah sang ketua. Dengan niat ikhlas sekaligus ingin
mengetahui siapa wanita itu, Fikri berdiri di tengah keramaian sambil
mencari Ketua Komunitas. Fikri sebelumnya sudah bilang kalau dia
menggunakan jaket berwarna hitam dan membawa tas selempeng ke kiri pada
Ketua, tiba-tiba seseorang memegang pundak Fikri dan bilang “Fikri ya?”.
Spontan Fikri mengangguk dan si orang itu menyuruhnya untuk ikut
dengannya. Ditempat itulah Fikri bertemu kembali dengan wanita itu.
Wanita itu mungkin tak mengingat Fikri, jelas kontak mata yang terjadi
hanya beberapa saat minggu lalu. Tapi Fikri tetap tidak bisa melupakan
wanita itu. Wanita dengan baju gamis panjang berwarna cream, lengkap
dengan kerudungnya yang menutupi setengah badannya. Tak lupa kacatamanya
yang membuat senyumnya bertambah manis.
Fikri berkenalan dengan yang lainnya, kemudian si Ketua langsung memberi
kata-kata sebelum berbagi nasi bungkus ini. Kata-kata yang membuat
Fikri juga merasa tidak salah untuk bergabung dengan Komunitas ini. Yang
paling tidak bisa Fikri lupakan dari kata-kata sang ketua adalah
tentang Al-Quran Surat Al-Hadiid Ayat 7 yang memiliki arti
Quote:
“Berimanlah
kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu
yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang
beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya
memperoleh pahala yang besar”
Entah kebetulan atau memang takdir yang maha kuasa, Fikri ditugaskan
untuk berbagi nasi dengan kelompok yang ada wanita itu di dalamnya.
Kelompok-kelompok ini berjumlah 4 orang disetiap kelompoknya dan di
sebar di sekitar alun-alun kota. Karena Fikri anak baru dan gatau
prosedur jalannya, wanita itu disuruh sang ketua untuk membantu Fikri.
Disitulah awal perkenalan Fikri dan wanita yang mempunyai nama Ayra.
Begitu pula awal cerita ini dimulai.
“Fikri ya? Saya Ayra, jadi langsung aja ya saya jelasin prosedurnya” Ucap Ayra
“Iya boleh mbak” Jawab Fikri
“Jangan Mbak dong, panggil nama aja biar akrab” Protes Ayra
“Oke siap Ra” Lanjut Fikri singkat
Sambil berbagi nasi, Fikri tak lepas dari curi-curi pandang ke arah
Ayra. Entah Ayra menyadari atau tidak, yang jelas difikiran Fikri adalah
bagaimana cara memberhentikan waktu. Fikri bahkan hampir tidak sadar
kalau ada 2 orang lainnya selain Ayra. Disaat sedang duduk di taman
alun-alun untuk beristirahat, Ayra membuka kacamatanya untuk mengelap
keringat disela-sela hidungnya. Pemandangan sederhana seperti itu dapat
membuat Fikri tersenyum untuk 1 minggu kedepan. Ayra menawarkan air
mineral gelas yang dia bawa dan Fikri mengambilnya.
“Terima kasih, nomor teleponnya juga sekalian dong”.
Dalam hatinya Fikri berteriak,
“WHAT THE F*CK ARE U DOING?!”.
Diluar dugaan Ayra bilang
“Ambil aja di Grup WA, kan kamu udah join”
Sambil menepok jidatnya sendiri, Fikri menganggukan kepala dan bilang
“Iya juga ya”.
Selesai berbagi nasi, semua pulang ke rumah masing-masing. Fikri harus
mengurungkan niatnya yang ingin mengantar Ayra pulang karena Ayra
ternyata membawa motor sendiri. Ingin membuntuti Ayra hanya sekedar
ingin mengetahui rumahnyapun diurungkan karena takut dikira bukan orang
baik-baik. Senjata terakhir yang tersisa adalah nomor WA Ayra yang dia
dapat di grup komunitas. Dengan perasaan dag dig dug der Fikri mencoba
menchatting Ayra.
“Assalamualaikum Ra, ini Fikri di save ya nomor saya” Fikri mencoba memulai
“Sudah tau, sudah saya save. Saya selalu save semua anggota karena saya bendahara” Jawab Ayra yang sangat formal.
“Oh begitu, oke terima kasih ya” Lanjut Fikri. Chat berakhir dengan ceklis 2 biru yang tak kunjung ada jawaban lain.
Satu hal yang Fikri tau tentang Ayra saat itu adalah, Ayra orangnya
sangat formal kesiapapun. Beda dengan Fikri yang biasanya mudah bercanda
dengan orang lain. Ini menjadi tantangan tersendiri untuknya.
Challange Accepted.
Hari-hari setelahnya Fikri hanya mencoba chat dengan Ayra saat Ayra
membuat status di WA. Kebanyakan hanya respon-respon positif terhadap
kata-kata WA Story Ayra, balasan Ayra juga terbilang cukup singkat padat
jelas, yap hanya emoticon jempol 1 atau terkadang 2 sampai 3, terkadang
juga hanya di baca. Perjuangan ini lebih sulit dari yang Fikri kira.
Sampai suatu ketika, saat Fikri membuat WA Story yang memang tujuannya
untuk Ayra, eh Ayranya balas. Awkward moment terbesar Fikri terjadi saat
itu. Mau bales takut salah ngomong, mau ga bales takut di kira sombong.
Fikri balas sebisa mungkin dan balasannya itu hanya dibaca oleh Ayra.
Malam itu, Fikri menggerutu dalam hatinya.
Pada hari jumatnya saat bertemu dengan Ayra, Fikri mencoba untuk stay
cool dan ya bisa dibilang, Fikri sudah agak menyerah karena dinding
kokoh hati Ayra yang sangat sulit untuk di tembus. Malam itu ditengah
rintik gerimis yang turun di kota, Fikri tetap ikhlas untuk berbagi
nasi, karena tujuan dia ikut komunitas ini adalah untuk berbagi, bukan
hanya untuk Ayra. Di tengah istirahat, Fikri ditegur oleh teman Ayra,
Naya.
Spoiler for Percakapan:
Fikri bingung setengah mati untuk mengambil langkah. Perasaan Fikri
terhadap Ayra seperti cangkir teh yang terus-menerus dituangi air teh
sampai tumpah. Semakin hari semakin menjadi. Ditengah kegalauan hatinya
itu, Fikri melihat ada Pamplet Kajian di Kampusnya. Tema pada Kajian itu
adalah tentang Menikah. Tanpa pikir panjang, Fikri mencacat tanggalnya
dan memutuskan untuk datang nantinya.
Hari dimana Kajian itu dilaksanakan, Fikri sengaja datang lebih awal
agar duduk paling depan. Fikri mencatat setiap perkataan-perkataan yang
menurut dia penting dari Ustadz yang berceramah. Seperti menikah itu
pahalanya setengah dari agama, menikah itu agar terbebas dari zinah,
orang yang menikah akan dicukupkan rezekinya oleh sang pencipta dan lain
sebagainya. Fikri sangat berantusias mengikuti ceramah ini.
Disaat sesi pertanyaan, Fikri bertanya pada Ustadz :
“Pak, Saya berumur 21 tahun, saya masih kuliah, saya ingin
menikah tapi saya tidak punya apa-apa. Dalam kondisi demikian saya harus
berbuat apa?”
Pak Ustadz menjawab :
“Menikahlah kau anak muda. Karena sesungguhnya syarat menikah
menurut Nabi Muhammad SAW hanya ada 4. Yang pertama karena Agamanya,
Kedua karena kecantikan atau ketampanannya, Ketiga karena Nasab atau
keturunannya dan yang terakhir karena hartanya.”
Mendengar jawaban Ustadz itu, pulang dari acara tersebut Fikri langsung
membicarakan hal besarnya ini kepada orang tuanya. Orang tua Fikri jelas
menentang karena sudah jelas mau diberi makan apa istrinya kelak. Ya
pemikiran orang tua kebanyakan memang seperti ini. Fikri menjelaskan
sedemikian rupa tentang ilmu yang dia dapatkan barusan di Kajian, tetap
saja orang tuanya tidak merestui dan tidak mengizinkan Fikri untuk
melamar anak orang sembarangan. Tapi Fikri tetap bersikeras untuk
melamar Ayra, dia bahkan bilang akan berangkat besok pagi ke rumah Ayra.
Orang tua Fikri menggeleng-gelengkan kepalanya. Sebelum dia tidur,
Fikri mem-WA Ayra dan bilang akan ke rumahnya besok pagi untuk
melamarnya. Ayra hanya merespon dengan balasan “Iya”. Melihat balasan itu, Fikri sangat bersemangat untuk tidur.
Pagi harinya, dengan sangat semangat Fikri mengendarai motor bebeknya ke
rumah Ayra. Bermodal Share Location dari Ayra, Kemeja rapih andalannya,
Celana Jeans Hitam dan Sepatu Sneakersnya pun tak ketinggalan Fikri
pakai dihari yang specialnya ini. Tanpa orang tuanya, Fikri langsung
mencoba melamar Ayra.
Sesampainya di rumah Ayra, Fikri dipersilahkan masuk oleh Asisten Rumah
Tangganya. Fikri disuruh duduk di ruang tamu dan menunggu Bapak dari
Ayra. Ketika Bapak Ayra datang, Fikri spontan berdiri dan bersalaman
dengan bapak Ayra. Kemudian bapak Ayra menyuruh Fikri kembali duduk.
“Jadi kamu siapa dan ada perlu apa kemari nak?” Tanya Bapak Ayra To The Point
“Begini pak, mohon maaf jika saya tidak sopan, tapi tujuan saya sekarang ke rumah bapak adalah untuk melamar anak bapak, Ayra.” Jawab Fikri tegas.
Setelah jabawan itu Fikri tegaskan, ayah Ayra langsung banyak sekali
bertanya ke Fikri. Mulai dari kesibukannya apa sekarang, anak keberapa
dari berapa bersaudara, nama orang tuanya siapa, orang tua kerja dimana
dan pertanyaan pamungkasnya adalah “Kenapa mau ngelamar anak saya?”
Jabawan Fikri adalah :
“Karena saya yakin, meskipun sekarang saya tidak punya apa-apa,
tapi Allah Swt. Selalu bersama saya. Allah Swt. Akan selalu melindungi
saya jika saya selalu berjalan ke jalan yang benar dan menikah merupakan
jalan yang sangat diridhoi Allah Swt. Pak. Saya yakin juga anak bapak,
Ayra dapat menjadi penyempurna yang sangat sempurna dalam hidup saya”
Setelah mendengar jawaban itu, bapak Ayra langsung memanggil Ayra untuk
ke ruang tamu. Ayra duduk di sampingnya. Dengan helaan nafas yang
lumayan panjang,
“Nak Fikri, terima kasih sudah melamar anak saya Ayra, tapi maaf
saya pribadi belum bisa menerima kamu untuk menjadi mantu saya.
Alasannya adalah kamu masih belum siap untuk membangun rumah tangga.” Jelas Bapak Ayra
“Tapi pak saya serius dan saya siap” Protes Fikri
“Oke kalau gitu kamu saya uji. Bawa uang 200 juta kemari dan
lamar kembali anak saya. Apa kamu sanggup? Itu juga kalau belum ada yang
lamar anak saya lagi ya.” Tantang Bapak Ayra
"Oke Pak saya akan kembali Jawab Fikri Singkat
Setelah itu Fikri langsung pamitan untuk pulang, Ayra menemani Fikri
sampai gerbang depan rumahnya. Sambil menutup pagar rumah Ayra melihat
kearah Fikri yang sedang berusaha menyalakan motor bebeknya. Setelah
motornya menyala, Fikri menoleh ke arah Ayra dan bilang “Doain ya”.
Ayra mengangguk kemudian menutup pagar rumahnya. Fikri langsung pulang
ke rumah dan masuk ke kamarnya. Masih dengan kemeja andalan, celana
jeans hitam dan sepatu sneakers yang masih melekat dibadannya, Fikri
menerawang ke langit-langit kamarnya sambil mengangkat tangannya dan
terlintas dipikirannya “200 juta ya, gimana ya, apa gue bisa?”. Tanpa disadari Fikri tertidur.
Siangnya Fikri terbangun dan langsung mengganti pakaiannya. Ketika
keruang tamu, dia bertemu orang tuanya. Orang tuanya menanyakan apakah
Fikri benar-benar melamar orang lain dan menanyakan hasilnya. Fikri
menjelaskannya sedikit demi sedikit.
Ayah Fikri menjelaskan kembali kepada Fikri
"Orang tua kaya kita tuh hanya ingin yang terbaik buat
anak-anaknya nak. Kalau kamu emang udah siap untuk menikah, kita juga ga
akan melarang kamu. Kamu bebas mau nikah sama siapapun pilihan kamu.
Tapi untuk saat ini kamu memang belum siap. Kamu juga harus lebih banyak
mendekatkan diri juga ke Allah Swt. Nak. Allah tuh maha membolak
balikan hati. Jadi jangan cuman ngedeketin dia dan orang tua dia, tapi
deketin dulu yang nyiptain hati mereka. Insyaallah nak pasti dikasih
jalan terbaik sama Allah"
Mendengar penjelasan itu Fikri tak bisa menahan air matanya. Fikri sadar
selama ini dia sudah sangat jauh sama sang pencipta, dia sudah banyak
sekali melakukan hal-hal yang dilarang dan meninggalkan kewajiban dia
untuk beribadah. Fikri sadar, dirinya harus berubah menjadi lebih baik
untuk bisa mendapatkan Ayra. Karena sebagaimana Fikri pernah dengar
dalam suatu ceramah, Jodohmu adalah cerminan dirimu. Maka kalau Fikri
baik, jodohnya juga akan orang yang baik. Fikri yakin Ayra adalah orang
yang baik. Keluarga Ayra juga dirasa keluarga baik-baik. Jadi sekarang
misi utama Fikri adalah berubah menjadi orang yang lebih baik.
2017
Tahun ini merupakan tahun terakhir Fikri berkuliah, saat ini dia
memasuki semester akhir. Kesibukan Fikri bukan hanya kuliah semata. Dia
lebih disibukan dengan bisnis-bisnis yang dia lakukan sedari tahun lalu.
Fikri membuka bisnis di bidang kuliner maupun pakaian. Bermula dari
berjualan makanan Seblak dan Risoles Isi di rumahnya, sekarang Fikri
sudah berjualan secara online. Seiring berjalannya waktu, bisnis Fikri
berkembang pesat dan Fikri berfikir untuk memulai bisnis baru menjelas
Ramadhan tahun lalu. Ide bisnisnya adalah berjualan Pakaian. Bermodal
keahlian dalam mendesain, Fikri memulai untuk berjualan Pakaian dengan
Brand Fikra, Fikra merupakan singkatan dari nama Fikri dan Ayra. Dia
menamai brand pakaiannya itu agar semangat. Brand Fikra tidak hanya
menjual baju dengan desain-desain unik saja, tapi Fikra juga menjual
pakaian-pakaian muslim. Fikri berfikir ini lagi momennya dan biar
berkah. Orang tua Fikri sangat senang melihat anaknya semangat dalam
berbisnis sambil tidak lupa berkuliah. Orang tua Fikri juga tidak
sungkan-sungkan membantu bisnis anaknya ini. Sampai suatu hari Ibu Fikri
bilang “Kamu udah siap menikah nak”. Fikri hanya tersenyum mendengar kalimat itu dari Ibunya.
Kesibukan Fikri tidak hanya sebatas Kuliah dan Bisnis saja. Fikri juga
lebih rajin mengikuti kajian-kajian yang berada di kotanya. Darisanalah
dia belajar banyak tentang islam. Banyak hal-hal kecil maupun besar yang
dia ambil dari setiap kajian yang menuntunnya ke arah yang lebih baik.
Fikri mulai jarang mengikuti kegiatan Komunitas Berbagi Nasi karena
lebih memilih ikut Kajian. Sebenarnya ini juga langkah dia untuk lebih
menjaga jarak dari Ayra. Dia hanya ingin saat Ayra melihatnya lagi
nanti, Fikri terlihat lebih baik. Fikri juga tidak tau kabar Ayra, Fikri
tidak tahu apakah sudah ada orang lain yang melamar dia terlebih
dahalu. Fikri hanya fokus mengejar cinta Allah Swt dengan lebih sering
sholat 5 waktu di masjid, ikut kajian keislaman, dan melakukan hal-hal
baik lainnya.
Dipengujung tahun 2017, Fikri lulus dari kuliah dan dihari dia wisuda,
dia berfikir akan melamar Ayra besok. Fikri menceritakan niatnya
tersebut pada orang tuanya. Orang tuanya menyambut baik niat anaknya
tersebut sambil berpelukan.Malam harinya, sesuai dengan janji Fikri
terhadap Bapak Ayra, dia pergi ke bank tempat dia menyimpan uang hasil
dari bisnisnya selama ini. Fikri jarang melihat saldo rekeningnya,
karena untuk urusan keuangan dia percayakan kepada ibunya. Kali ini dia
berpergi ke bank dan langsung menuju ATM. Dengan harap-harap cemas dia
berharap uang yang ada di saldonya berjumlah 200 juta atau lebih. Dari
ternyata uang yang ada di saldonya hanya ada 160 juta. Fikri pulang
dengan muka lemas, dia hanya mengambil 100rb untuk membeli makanan
dijalan pulangnya. Sesampainya dirumah dia bercerita kepada ibunya
tentang tantangan Bapak Ayra ini. Ibunya langsung menuju kamar dan
membawa sebuah koper.
“Nih hasil bisnis kamu yang offline selalu ibu taro sini, yang di bank mah hasil dari online doang fik” Jelas ibunya.
“Coba kita hitung yuk bu.” Lanjut Fikri
Setengah jam berlalu, uang yang terhitung mencapai 35 juta. Tanpa
disadari dari ruang keluarga, Ayah Fikri mendengar pembicaraan dan
melempar uang 5 juta yang dikaretkan sambil bilang “Nih kurangnya”.
Fikri langsung memeluk kedua orang tuanya dan kemudian bergegas
merapihkan semua uangnya kembali ke dalam koper dan berbegas tidur.
Besok paginya, sebelum ke rumah Ayra, Fikri pergi ke bank dahulu untuk
mengambil uang di tabungannya. Tak memakan waktu lama, Fikri langsung
merapihkan sisa uang yang dia punya ke dalam koper yang dibawa ibunya
dan menuju rumah Ayra dengan orang tuanya. Sesampainya di rumah Ayra,
Fikri dan Keluarga langsung dipersilahkan duduk di ruang tamu oleh orang
tua Ayra. Fikri menjelaskan maksud kedatangannya untuk melamar Ayra
kembali sambil menyodorkan koper berisi uang 200 juta. Bapak Ayra
tertawa dan menyuruh Fikri mengambil kembali koper itu.
“Jadi ini nak Fikri, tujuan saya memberi syarat membawa uang 200
juta itu sebenarnya hanya ujian semata. Itu buat menguji kamu serius gak
sama anak saya. Dari yang saya liat tentang perkembangan kamu, saya
liat kamu sekarang sudah sangat siap untuk menikah. Tapi sekarang balik
lagi ke anak saya. Anak sayanya mau gak sama kamu. Ayra gimana?” Jelas Bapak Ayra.
Ayra mengangguk tanda setuju. Seisi ruangan sontak mengucapkan "Alhamdulillah"
2018
Awal tahun menjadi awal yang baru juga bagi kehidupan Fikri dan Ayra.
Setelah melewati segala hal, akhirnya Fikri berhasil menjadikan Ayra
sebagai Istrinya. Perjuangan Fikri tak lepas dari doa orang tuanya, doa
dirinya dan bahkan mungkin Fikri tidak tahu jika ternyata Ayra diam-diam
mendoakannya. Semua ini terjadi karena niat yang baik dari semuanya.
Niat karena Allah Ta’alla. Fikri dan Ayra berharap pernikahan mereka
bisa menuntun mereka ke Surga-Nya. Amin.
FirZha
TAMAT
Sumber : https://www.kaskus.co.id/thread/5b07ed1ad44f9f753d8b456b/yuk-ngabuburit-sambil-baca-kumpulan-cerpen-di-sini/